CHE

Kerangka teoritis teknologi pendidikan memberikan suatu dasar yang memungkinkan dipenuhinya ketiga kreteria dalam merumuskan definisi, yaitu adanya aplikasi praktis bidang teknologi pendidikan. Ada tiga aplikasi khusus teknologi pendidikan yang dapat diidentifikasikan: sumber dan fungsi sebagai aplikasi; pengaruh terhadap struktur organisasi pendidikan; pengaruh dalam unsur-unsur khusus yang memungkinkan belajar.

1. SUMBER DAN FUNGSI SEBAGAI APLIKASI

Aplikasi teknologi pendidikan yang paling mendasar, dan yang secara tegas dinyatakan, adalah menyediakan dan melaksanakan pemecahan masalah dalam memberikan kemungkinan belajar. Berdasarkan kerangka teoritis yang telah dibahas sebelumnya, pemecahan ini berbentuk sumber belajar. Sumber ini baik yang sengaja dirancang maupun yang dipilih dan kemudian dimanfaatkan –merupakan produk konkrit yang tersedia untuk berinteraksi dengan si-belajar. Produk ini merupakan bukti penerapan teknologi pendidikan yang paling jelas.

Fungsi-fungsi pengelolaan dan pengembangan juga merupakan bukti penerapan praktis teknologi pendidikan. Masing-masing fungsi tersebut mempunyai kegiatan dan hasil khusus, yang dapat diukur dan dilihat. Dengan demikian orang dapat melihat seseorang yang sedang melakukan penilaian kebutuhan, memproduksi film, mengkatalogkan bahan-ajaran, berinteraksi dengan si belajar, mengelola orang lain dan sebagainya Kegiatan nyata dari kegiatan tersebut yang membuahkan hasil, juga merupakan bukti bahwa teknologi telah diaplikasikan dalam pendidikan.

2. PENGARUH PADA STRUKTUR ORGANISASI

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa pada masa tinggal landas, disuatu tempat, akan terjadi perubahan pola organisasi (pendidikan) secra radikal. (Finn, 1962:71)

Teknologi mempunyai dampak penting terhadap struktur organisasi lembaga yang menerapkannya. Dampak ini akan terasa dalam tiga hal yaitu: mengubah tingkat pengambilan keputusan, menciptakan pola instruksional baru, dan memungkinkan adanya bentuk alternative lembaga pendidikan.

Tingkat Pengambilan keputusan

Apabila teknologi pendidkan hanya dianggap sebagai “alat bantu audio visual”, maka dampaknya akan terasa pada tingkat pengambilan keputusan intruksional yang rendah. Ketiga tingka pengambilan keputusan serta dampak “alat bantu audio visual” dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 6.1.

MASUKNYA ALAT BANTU AUDIO VISUAL TRADISIONAL PADA PROSES INSTRUKSIONAL

(HEINICH, 1970 : 117)





Penentuanan

Kurikulum






Dalam gambar tampak bahwa alat bantu audio visual hanya mempengaruhi pengambilan keputusan pada tingkat pelaksanaan dikelas.

Konsep teknologi pendidikan pada definisi yang sekarang, mengubah tingkat dampak teknologi pendidikan terhadap pendidikan dan pembelajaran. Dampak itu kini terasa pada tingkat pengambilan keputusan yang lebih tinggi. Dalam gambar berikut ini Heinich menunjukkan pengaruh teknologi pendidikan dalam pengambilan keputusan instruksional pada tingkat perencanaan kurikulum.

Gambar 6.2.

MASUKNYA TEKNOLOGI INSTRUKSIONAL PADA PROSES INSTRUKSIONAL (HEINICH, 1970: 125)

Teknologi

Pendidikan

Implementasi

Di kelas

Perencanaan

Kurikulum

Penentuan

Kurikulum

Diantara kedua tingkat pengambilan keputusan yang teratas dalam diagram Heinich, terdapat hubungan timbal balik dan bukannya hubungan searah seperti tergambar dalam diagram. Proses perencanaan kurikulum pun mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengambilan keputusan tertinggi, yaitu penentuan kurikulum. Oleh karena itu teknologi pendidikan, meskipun tidak secara langsung, juga mempengaruhi pengambilan keputusan instruksional yang tertinggi. Pengaruh itu berlangsung melalui prosedur analisis kebutuhan, analisis siswa, analisis tugas, dan perumusan tujuan instruksional.

Dengan demikian pengaruh teknologi pendidikan tidak hanya terasa pada tingkat pengambilan keputusan yang paling bawah, atau pada tingkat pelaksana dikelas, melainkan pula pada tingkat di atasnya dan bahkan di tingkat tertinggi, yaitu tingkat perencanaan dan penentuan kurikulum.

Jenis Pola Instruksional

Berdasarkan definisi teknologi pendidikan yang sekarang, dapat diidentifikasikan empat pola dasar pembelajaran yang dapat diorganisasikan

Pola pertama merupakan pola tradisional dalam bentuk tatap muka guru-siswa.

Dalam pola ini guru, yang bertindak selaku komponen system instruksional, merupakan satu-satunya sumber . Pola ini dapat digambarkan dalam diagram berikut :

Gambar 6.3.

PEMBELAJARAN TRADISIONAL ( MORRIS, 1963; 11)

Tujuan

Penetapan

Isi dan

metode

guru

siswa











Bentuk pola yang kedua merupakan guru dengan “alat bantu audiovisual “ untuk membantu kegiatan pembelajaran. Pola ini masih tetap memandang guru sebagai Komponen system Instruksional yang utama, dengan sumber belajar lain(seperti bahan pelajaran, perangkat keras, teknik, latar kegiatan belajar) yang dipergunakan sebagai tambahan. Morris menyebut pola ini “guru dengan media “ dan dapat ditunjukkan dengan gambar 6.4. berikut:

Gambar 6.4.

PEMBELAJARAN TRADISIONAL (MORRIS, 1963; 11)










Tujuan


Penetapan

Isi dan

metode


Guru

dengan media


Siswa












Pola instruksional yang ketiga mengandung pemanfaatan system instruksional yang lengkap, meliputi pembelajaran bermedia dimana guru terlibat dalam merancang dan menilai serta menyeleksi, maupun berperan dalam fungsi pemanfaatan untuk hal-hal yang yang belum tercakup dalam sisten instruksional. Sebagian besar proses pembelajaran diberikan melalui system instruksional yang telah dirancang sebelumnya, dan yang terdiri dari komponen system instruksional yang bukan manusia ( bahan, peralatan, teknik, latar). Pola ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 6.5.

FUNGSI MEDIA NO.1 : GURU DENGAN MEDIA

(MORRIS, 1963; 11)




Pola instruksional keempat meliputi penggunaan system instruksional lengkap yang hanya terdiri dari pembelajaran bermedia, di mana guru tidak berperan langsung. Pendekatan “media saja” ini tidak dikemukakan oleh Morris, namun dapat digambarkan sebagai berikut ;

Gambar 6.6.

FUNGSI MEDIA NO.3 : PEMBELAJARAN BERMEDIA




Kombinasi berbagai pola instruksional dasar tersebut, dapat ditunjukkan diagram Morris sebagai berikut ;

Gambar 6.7.

SISTEM INSTRUKSIONAL

Sistem









Guru saja







Guru dengan media








Media saja





Umpan balik dan evaluasi

Heinich (1970; 147) mengajukan “model tentang paradigma pengelolaan intstruksional “ yang sejalan dengan diagram Morris , bedanya Heinich menunjukkan dengan jelas hubungan terkendali antara guru kelas dengan guru bermedia.

Heinich memandang kegiatan kelas yang tradisional sebagai “guru dengan media” (Heinich,1970;147), yang meliputi apa oleh Morris disebut “{pembelajaran Tradisional” dan “Guru dengan Media”(gambar 6.3 dan 6.4.) Heinich lebih lanjut menekankan bahwa dalam kegiatan ini guru kelas menguasai semua media, dan keputusan untuk menggunakan atau tidak sepenuhnya ada dalam kewenangannya (gambar 6.8.)

Gambar 6.8.

SUATU MODEL TENTANG PARADIGMA BARU

PENGELOLAAN INTRUKSIONAL

(ANGKA-ANGKA DITAMBAHKAN UNTUK MEMPERLIHATKAN HUBUNGAN DIAGRAM INI DENGAN GAMBAR 6.4, 6.5, DAN 6.6.)

Strategi

Perencanaan

kurikulum









1







Guru

bermedia




3 2












Guru

bermedia









3 2 1


Pola hubungan kedua Heinich (periksa nomor 2 pada gambar 6.8.) menunjukkan “ Pembagian Tanggung Jawab” antara guru kelas dengan guru bermedia. Pola ini meskipun mirip dengan diagram Morris “ Guru dan Media” (gambar 6.5.), namun lebuh eksplisit mengenai kendali oleh guru bermedia.

Pengaturan ini memungkinkan system yang bersifat adaptif, meskipun tetap mempertahankan keunggulan mutu pengajaran dalam arti luas melalui media. Perhatikanlah bahwa guru bermedia di bagian tengah (model 6.8.) mencapai siswa tanpa melalui guru kelas. Dengan kata lain siswa menggunakan sebagian waktunya dengan guru bermedia dan selebihnya dengan guru kelas. Bukan guru kelas yang memutuskan apakah siswa perlu belajar dari guru bermedia atau tidak. Keputusan ditetapkan pada tingkat perencanaan kurikulum.

Pola yang ketiga (gambar 6.8.) oleh Heinich menunjukkan di mana seluruh pembelajaran dilakukan oleh guru bermedia . Pola ini mirip dengan “media saja”(gambar 6.6.) . Dalam pola ini guru kelas sebagai komponen system instruksional insani, tidak terlibat dalam pemanfaatan. Guru bermedia tidak mencapai siswa melalui guru kelas, dan tidak pula berbagai tanggung jawab dengan guru kelas(Heinich, 1970; 148)

Oleh karena itu, teknologi pendidikan disamping mempunyai dampak pada pengambilan keputusan intruksional pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi, juga memungkinkan adanya empat pola pembelajaran yang berbeda. Keempat pola itu bila dinyatakan berdasarkan definisi yang sekarang, dapat diringkas sebagai berikut:

1. Sumber belajar insani/komponen system instruksional

  1. sumber belajar/Komponen Sistem instruksional berupa bahan, alat, teknikdan latar yang berfungsi melalui sumber belajar / komponen system instruksional insani terhadap si belajar.
  2. Sumber belajar / komponen, system instruksional berupa bahan, alat, teknik dan latar yang dipadukan( yang dipadukan dalam produk atau system instruksional dalam bentuk pembelajaran bermedia) yang berinteraksi dengan si belajar dalam suasana tanggung jawab bersama dengan sumber belajar / komponen system instruksional insani .
  3. Sumber belajar / komponen system instruksional berupa bahan, alat, teknik dan latar(yang terpadu dalam system instruksionaldalam berbentuk pembelajaran bermedia) yang berinteraksi sendiri dengan si belajar tanpa campur tangan sumber belajar/komponen system instruksional insani.

Jenis alternative lembaga kependidikan

Telah kita ketahui bahwa kegiatan pembelajaran hampir selalu terjadi dalam lembaga yang disebut sekolah. Teknologi pendidikan , di samping mempengaruhi tingkat pengambilan keputusan dan pola intruksional, juga mempengaruhi struktur dan bentuk lembaga pendidikan . Definisi AECT yang terdahulu (1972) menyatakan bahwa :

Paling sedikit ada lima macam alternative yang tersedia untuk memberikan kemudahan dalam belajar. Masing-masing alternative berbeda ditinjau dari segi formalitas yaitu : sifat wajib dari lembaga bersangkutan , dari tingkat kewenangan pengelolanya, dan dari macam sumber belajar yang tersedia.

Sistem sekolah yang ada sekarang merupakan lembaga yang paling normal. Tujuannya untuk mengajar, Kehadiran bersifat wajib, demikian pula tujuan yang ditetapkan dalam masyarakat harus dicapai oleh para siswa . Kewenangan ada ditangan pendidik professional dan pemerintah. Kecuali itu sumber dan pendekatan yang dipakai terbatas.

Alternatif yand kedua cenderung lebih informal, seperti program belajar jarak jauh atau belajar dengan media. Salah dsatu contoh adalah program universitas terbuka. Program ini mirip dengan sekolah ditinjau dari segi kewenangan dan pengendalian, namun krena sumber-sumbernya didatangkan ketempat si belajar(bukannya si be belajar yang didatangkan ke sumber belajar ) maka kewenangan dan pengendalian ini lebih sulit dilaksanakannya . Adanya berbagai macam sumber belajar serta sifat belajar yang mandiri, menyebabkan program ini bersifat informal dibanding dengan system sekolah.

Beranjak lebih jauh dari segi formalitas terdapat program yang inovatif yang ditandai oleh adanya kelas terbuka, kegiatan pembelajaran individual, dan yang disesuaikan dengan minat pribadi, serta dengan pemanfaatan sumber belajar, yang terdapat dimasyarakat maupun yang lain. Penekanannya adalah pada kegiatan belajar bukan pada mengajar. Meskipun siswa dapat memilih sendiri sasaran dan tujuan, tetapi jumlah pilihan itu terbatas dan dan keseluruhan itu ditetapkan oleh para pendidik. Kecuali itu seluruh kewenangan dan pengendalian masih ada di tangan pendidik.

Sekolah bebas merupakan bentuk lebih mengarah pada informalitas. Titik berat disini adalah tanggung jawab bersama dan tidak adanya kewajiban ikut serta. Tujuan belajar, bilamana ada , di tentukan sendir oleh si belajar. Baik guru maupun si-belajar mempunyai kewenangan yang sama dalam mengambil keputusan yang besangkutan dengan lembaga . Kehadiran bukan merupakan sesuatu yang wajib. Kebanyakan sumber belajar yang dipakai adalah yang tersedia secara alamiah dalam lingkkungan yang sesugguhnya.

Kegiatan belajar yang paling informal terdapat dalam apa yang disebut jaringan belajar. Jaringan ini bukan merupakan lembaga atau system pendidikan, melainkan merupkan sarana kemudahan untuk memperoleh sumber belajar dalam arti yang seluas-luasnya yaitu segala sesuatu yang dapat membentu orang lain belajar. Tujuan, keikutsertaan, serta kewenangan sepenuhnya ada ditangan pribadi si-belajar. Ia bebas dalam menentukan apakah jaringan itu akan dimanfaatkan atau tidak.

Mempersoalkan apakah para ahli teknologi pendidikan dapat menyetujui format-format tersebut diatas, merupakan hal yang kurang penting, karena semua format itu akan tetap ada tanpa peduli apakah disetujui atau tidak. Ada dua hal yang lebih penting untuk diperhatikan. Pertama, ada peranan yang pasti bagi teknologi pendidikan untuk tiap alternative. Peranan itu mungkin berlainan pada alternative satu dengan yang lainnya, namun bidang teknologi dapat melayani semua melaluinya melalui identifiksi, pengembangan dan pengorganisasian sumber belajar. Kedua timbul berbagai bentuk lembaga yang memberikan kemudahan belajar dimungkinkan dengan adanya teknik-teknik dan sumber belajar dari bidang teknologi pendidikan. Kenyataan bahwa beberapa sumber belajar dapat dirancang sebelumnya, di ujicobakan, dan kemudian disampaikan kepada siswa dari jarak jauh, cenderung diartikan bahwa gedung sekolah dan guru bukan merupakan satu-satunya pola untuk pendidikan. Kenyataan bahwa di masyarakat umum tersedia sumber belajar, mengandung arti bahwa lembaga yang semata-mata bergerak dalam”sumber instruksional” tidak perlu lagi membatasi ruang lingkupnya. Kenyataan bahwa cara-cara alternative untuk mencapai tujuan belajar dapat disediakan, dengan berbagai konfigurasi cara, memungkinkan terciptanya berbagai alternative lembaga. Kenyataan adanya mesin canggih, menciptakan kondisi untuk lahirnya alternative lembaga pendidikan.

3. PENGARUH TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSANPENDIDIKAN.

Menurut pengamatan Heinich (1970) aplikasi teknologi pendidikan secara langsung berpengaruh terhadap keputusan yang diambil mengenai proses khusus pedidikan. Aplikasi itu membawa dampak pada siapa yang memutuaskan isi yang diajarkan; pemilihan isi serta tingkat standardisasinya; kuantitas dan kualitas sumber yang disediakan; siapa yang merancang sumber belajar dan bagaimana caranya, serta siapa dan bagaimana memproduksinya sumber belajar itu; siapa dan bagaimana mengevaluasi pembelajaran; siapa dan bagaimana berinteraksi dengan si-belajar; siapa dan bagaimana menilai perbuatan si-belajar.

Penetapan isi

Secara tradisional isi yang bersifat umum ditentukan oleh komisi-kurikulum atau coordinator wilayah persekolahan (school Districts di Amerika Serikat) . pelaksanaannya secara khusus dilakukan oleh para guru atau instruktur perorangan. Teknologi pendidikan mengalihkan penetapan isi kepada tim ahli yang dikoordinasikan oleh institusi pendidikan pusat.

Dengan ditetapkannya isi mata pelajaran oleh tim dari ahli bidang studi, pengembang instruksional dan produser, maka peranan komisi kurikulum local dan instruktur perorangan akan berubah menjadi memilih, dan bukannya menetapkan isi mata pelajaran.

Standardisasi dan Pilihan

Menurut Finn(1966; 49) mengatakan,”Salah satu kecenderungan kuat di masa mendatang adalah gerakan umum ke arah satndardisasi…”. Ramalan ini mulai terbukti meskipun tidak secepat yang diperkirakan. Dengan demikian meningkatnya pemanfaatan program media, makin banyak lembaga-lembaga yang menawarkan program pembelajaran yang sama, padahal lembaga tersebut tersebar di berbagai daerah dengan kebutuhan local dan filsafat yang berbeda. Di wilayah Chicago saja misalnya, terdapat paling sedikit lima Universitas yang menawarkan program The Ascent of Man sebagai mata kuliah yang mempunyai beban kredit. Dan mungkin mereka mengalami kesulitan untuk memperoleh kesepakatan isi mata kuliah bila mereka diminta menentukan sendiri. Tetapi dengan tersedianya program media pembelajaran dengan format standar yang disiarkan oleh Public Broadcasting System, ke lima lembaga tersebut menawarkan kuliah yang intinya –isi maupun penyajiannya sama.

Dengan standardisasi tidak berarti bahwa semua lembaga akan menawarkan mata kuliah yang sama. Dengan makin banyaknya dikembangkan program pembelajaran bermedia, khususnya dengan tersedianya berbagai pelajaran dalam subyek yang sama, lembaga-lembaga itu akan mempunyai banyak pilihan. Sebagai contoh “The Biological science -curiculum Study (BSCS),” yang menyadari adanya berbagai macam pendekatan dalam pengajaran biologi, memproduksikan berbagai pelajaran yang masing-masing menggunakan pendekatan yang berbeda setiap lembaga. Jadi, sejalan dengan standardisasi pembelajaran timbul kecenderungan untuk memilih program pembelajaran yang terstandardisasikan.

Kuantitas dan Kualitas

Pilihan yang tersedia bagi wilayah, lembaga, guru/dosen menjadi lebih sedikit apabila program pembelajaran bermedia dipergunkan. Hal ini terjadi karena jumlah pelajaran bermedia mengenai subyek yang sama, akan lebih sedikit dibandingkan jumlah pelajaran tradisional atau yang diajarkan guru . ini berarti jumlah pelajaran yang tersedia menjadi berkurang . dengan mempertimbangkan terbatasnya waktu yang tersedia, keahlian dan biaya yang diperlukan untuk memproduksi pembelajaran bermedia, serta jumlah siswa yang harus dilayani agar pembelajaran itu efektif ditinjau dari segi biaya, maka jumlah media yang diproduksi tidak akan sebanyak bila program itu dibuat oleh masing-masing wilayah atau guru/dosen.

Akan tetapi menurunnya kuantitas ini akan diimbangi dengan peningkatan kualitas. Dengan diproduksikannya program pembelajaran bermedia oleh tim ahli bidang studi, pengembangan instruksional dan produser khusus serta dengan waktu dan dana khusus yang tersedia, maka tentunya hasil produksi itu akan lebih baik ditinjau dari kualitas, bila dibanding dengan hasil produksi guru secara perorangan dengan sumber dana yang terbaas.

Rancangan Pembelajaran

Orang-orang yang melaksanakan kegiatan merancang serta teknik yang dipergunakannya, akan mengalami perubahan dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam paradigma tradisional “guru kelas saja”, kegiatan merancang pembelajaran dilakukan oleh seorang dengan menggunakan metode perencanaan pelajaran yang tradisional, di mana buku teks merupakan sumber belajar utama dan kadang-kadang dipergunakan “alat Bantu audiovisual “sebagai pelengkap. Sedangkan rancangan pembelajaran bermedia biasanya dilakukan oleh seorang ahli dalam proses pengembangan instruksional, termasuk didalamnya kegiatan menilai kebutuhan, analisis siswa, analisis perbuatan, analisis isi, penyusunan tujuan perilaku dan tes acuan standar, pentahapan pembelajaran, pemilihan sumber belajar secara sistematis, dan pengembangan spesifikasi untuk sumber belajar yang efektif. Di sini terjadi pergeseran dari ahli merancang yang dasar spesialisasi bidang studi, ke ahli merancang yang khusus dilatih dalam metode pengembangan instruksional. Proses yang dipakai oleh ahli tersebut akhir ini, adalah proses pengembangan instruksional yang sistematik, dan bukan sekedar pendekatan intuitif yang kebanyakan dipakai guru/dosen.

Produksi Bahan Pelajaran

Pembelajaran bermedia akan mengubah pula orang-orang yang melaksanakan kegiatan produksi, serta teknik maupun kualitas produksi mereka. Sumber belajar yang secara sederhana diproduksikan oleh instruktur, akan tersisih oleh unit pembelajaran bermedia yang dikerjakan oleh spesialis produksi berbagai media seperti: audio, foto, film dan televisi. Mereka ini menggunakan teknik produksi dan peralatan yang piawai. Pendidikan mereka berbeda dengan pendidikan guru/dosen, yaitu bukan sekedar isi ajaran, melainkan juga mempelajari teknik dan penggunaan peralatan.

Evaluasi Pembelajaran

Dalam teknologi pendidikan, khususnya program media, fungsi evaluasi menduduki peranan utama. Evaluasi pembelajaran dilakukan baik pada tahap pengembangan maupun dalam tahap pemanfaatannya, dalam rangka menentukan efektivias dan mengidentifikasikan bagian-bagian yang memerlukan penyempurnaan .

Interaksi Dengan Si-belajar

Tujuan serta orang yang melaksanakan kegiatan dalam fungsi pemanfaatan, akan berubah secara radikal dengan adanya pembelajaran bermedia. Dalam pembelajaran tradisional, instruktur secara langsung berinteraksi dengan si-belajar. Dalam pembelajaran bermedia, tugas menyajikan informasi khususnya, dilakukan oleh sumber belajar lain yang bukan orang secara langsung. Peranan interaksi yang dilakukan dengan si-belajar, pertama-tama adalah untuk membantu perkembangan emosi dan sosial mereka. Kemungkinan interaksi yang kedua adalah untuk tutorial yaitu memberikan bantuan remedial bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dari media. Orang-orang yang melakukan kedua peran tersebut berbeda dengan guru kelas yang sekarang.

Pengukuran Belajar

Aspek kedua yang berubah karena pembelajaran bermedia adalah pengukuran atas diri si-belajar. Secara tradisional, para gurulah yang melakukan pengukuran apakah siswa telah mencapai tujuan belajar atau belum. Pengukuran itu dilakukan dengan menggunakan metode yang tidak piawai, misalnya dengan menggunakan tes pilihan ganda, makalah, dan proyek.. seringkali tes-tes tersebut dianggap sebagai bagian terpisah dan berlainan dari pembelajaran. Seringkali tes tersebut tidak didasarkan pada tujuan intruksional khusus. Dengan pembelajaran bermedia, teknik mengukur prestasi siswa menjadi bagian dari pembelajaran. Tes bukan merupakan tambahan, melainkan bagian integral dari pembelajaran. Acapkali hasil tes menentukan apakah siswa memerlukan pembelajaran remedial atau tidak, sebelum siswa yang bersangkutan melanjutkan pelajaran yang berikutnya. Dengan demikian pengembangan alat-alat pengukuran menjadi bagian dari pengembangan bahan pembelajaran, dan dilaksanakan oleh ahli bidang studi dan para pengembang instruksional yang merancang pembelajaran.

Secara tradisional, guru merupakan orang yang memeriksa tes. Akan tetapi dalam pembelajaran bermedia, pengukuran belajar siswa mungkin dilaksanakan para juru tulis atau pengukur lain yang diberi tugas khusus. Mereka melaksanakan koreksi jawaban tes dengan pedoman kunci jawaban yang disusun oleh perancang ajaran.

Peran Guru dan Sistem Sekolah

Hasil dari seluruh penerapan praktis dimuka, menurut Finn, menyebabkan,”kemungkinan untuk tidak meniadakan guru, melainkan juga system sekolah (1960; 16). Pendapat ini sangat ekstrim, namun berhasil mengungkap suatu kenyataan bahwa dengan diplikasikannya teknologi pendidikan maka peranan guru dan system sekolah akan berubah dengan sangat drastis. System sekolah akan berhadapan dengan berbagai alternative kelembagaan yang memberikan kemungkinan terjadi belajar. Demikian juga peranan tradisional guru dalam menentukan isi, merancang dan memproduksi pembelajaran, interaksi dengan dan pengukuran siswa

4. Kesimpulan

Aplikasi teknologi pendidikan pada sumber dan fungsi mengandung pengertian bahwa teknologi pendidikan menyediakan, melaksanakan pemecahan masalah , serta mencakup fungsi-fungsi pengelolaan dan pengembangan sumber belajar .Oleh karenanya kehadiran teknologi pendidikan sangat penting dalam pendidikan .

Dampak aplikasi teknologi pendidikan sangat berpengaruh pada struktur organisasi pendidikan . Hal itu akan berpengaruh pada tiga hal yaitu : mengubah tingkat pengambilan keputusan, menciptakan pola interaksional baru, dan memungkinkan adanya bentuk alternative lembaga pendidikan .

Aplikasi teknologi pendidikan secara langsung berpengaruh terhadap keputusan yang diambil mengenai suatu proses pendidikan, terutama dalam memutuskan isi yang diajarkan, pemilihan isi serta tingkat standardisasinya, kuantitas dan kualitas sumber yang disediakan, rancangan sumber belajar dan yang memproduksinya, evalusi pembelajarannya beserta prosesnya.

Demikianlah seklumit materi aplikasi teknologi pembelajaran yang dapat saya sampaikan . Oleh karena itu perlu kritik, saran demi kesempurnaannya. Terima kasih.

REFERENSI

AECT Task Force on Definition and Terminology (1977)

The Definition of Educatioal Technology, Washington

Labels: edit post
Reactions: 
0 Responses

Poskan Komentar